<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Siwaratri (Purgatory a la Balinese)</title>
	<atom:link href="http://blog.baliwww.com/guides/540/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.baliwww.com/guides/540/</link>
	<description>Share Bali Indonesia experience with the rest of readers and exchange information, write to our blog instantly NOW!!!</description>
	<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 18:55:04 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
		<item>
		<title>By: sidarta</title>
		<link>http://blog.baliwww.com/guides/540/#comment-65601</link>
		<dc:creator>sidarta</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 10:05:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.baliwww.com/guides/540/#comment-65601</guid>
		<description>Pak Nyoman Sadra

saya ingin menanggapi comment dari pak Nyoman terhadap tulisan saya. Terus terang saya tidak sependapat dengan Vivekananda (bukan berarti saya mensejajarkan diri dengan Vivekananda hanya ingin menyatakan perbedaan pendapat walaupun saya sadar saya tidak mempunyai otoritas dan qualifikasi seperti beliau), menurut saya dosa (sin) bukanlah  sheer ignorance, tapi efek dari perbuatan yang dilakukan atas dasar ignorance. kalau seorang yang ignorant tidak melakukan perbuatan atau kegiatan berkarma yang buruk maka ia tidak bisa dikatakan melakukan dosa. orang yang ignorant    juga mempunyai kesempatan dan saya yakin dapat  berkarma baik walaupun kecil, sekali dalam sudut pandang saya dosa bukanlah kebodohan tapi  hasil dari kegiatan yang didasarkan atas ketidaktahuan atau kebodohan. saya juga ingin mengutip pepatah cina yang mengatakan bahwa orang bodoh tidak akan membuat masalah masalah hanya timbul dari orang bodoh yang merasa dirinya pintar, hanya bodoh saja tidak akan menghasilkan dosa namun juga diperlukan keberanian untuk melakukan perbuatan satu lagi dan kesalahan besar dihasilkan oleh orang besar.

masalah kegiatan Siwaratri tidak bisa menebus dosa dan karma. saya sangat yakin pada karma dan saya bahwa orang yang bergadang pada malam siwaratri mendapatkan penebusan dosa, bercermin dari cerita Lubdaka, dia sendiri tidak tahu kalau malam saat dia bergadang itu adalah malam  Siwaratri, dia hanya bergadang untuk menyelamatkan diri namun dia toh pada akhirnya mendapatkan surga. tidak perduli apa motif dibalik begadang itu sepanjang itu positif saya yakin akan ada balasanya, karena setiap kegiatan pasti akan menghasilakan buah. dalam cerita purana yang membahas tentang siwaratri tercantum bahwa orang yang hanya begadang saja walau tidak tahu tujuan begadang itu juga diampuni dosa - dosanya tapi terbatas pada dosa-dosa ringan saja. kata -kata kitab suci menurut saya lebih baik diterima apa adanya tanpa banyak interpretasi yang berlebihan karena tidak ada otoritas yang bisa membenarkan interpretasi tersebut dan tentu saja interpretasi itu dibuat oleh manusia yang tidak sempurna, Sesuatu yang tidak sempurna tidak dapat menghasilkan suatu hal yang sempurana. Pengetahuan tentang Agama yang terbaik adalah yang langsung dari Tuhan yang diturunkan dalam garis perguruan yang jelas sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, kalau tidak terdapat interpretasinya, just leave it as it is. 

Saat Tuhan dalam purana dikatakan memancarkan cahaya lembut bagai sinar seribu bulan maka Ya tentu saja Tuhan memancarkan cahaya lembut bagai sinar seribu bulan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Nyoman Sadra</p>
<p>saya ingin menanggapi comment dari pak Nyoman terhadap tulisan saya. Terus terang saya tidak sependapat dengan Vivekananda (bukan berarti saya mensejajarkan diri dengan Vivekananda hanya ingin menyatakan perbedaan pendapat walaupun saya sadar saya tidak mempunyai otoritas dan qualifikasi seperti beliau), menurut saya dosa (sin) bukanlah  sheer ignorance, tapi efek dari perbuatan yang dilakukan atas dasar ignorance. kalau seorang yang ignorant tidak melakukan perbuatan atau kegiatan berkarma yang buruk maka ia tidak bisa dikatakan melakukan dosa. orang yang ignorant    juga mempunyai kesempatan dan saya yakin dapat  berkarma baik walaupun kecil, sekali dalam sudut pandang saya dosa bukanlah kebodohan tapi  hasil dari kegiatan yang didasarkan atas ketidaktahuan atau kebodohan. saya juga ingin mengutip pepatah cina yang mengatakan bahwa orang bodoh tidak akan membuat masalah masalah hanya timbul dari orang bodoh yang merasa dirinya pintar, hanya bodoh saja tidak akan menghasilkan dosa namun juga diperlukan keberanian untuk melakukan perbuatan satu lagi dan kesalahan besar dihasilkan oleh orang besar.</p>
<p>masalah kegiatan Siwaratri tidak bisa menebus dosa dan karma. saya sangat yakin pada karma dan saya bahwa orang yang bergadang pada malam siwaratri mendapatkan penebusan dosa, bercermin dari cerita Lubdaka, dia sendiri tidak tahu kalau malam saat dia bergadang itu adalah malam  Siwaratri, dia hanya bergadang untuk menyelamatkan diri namun dia toh pada akhirnya mendapatkan surga. tidak perduli apa motif dibalik begadang itu sepanjang itu positif saya yakin akan ada balasanya, karena setiap kegiatan pasti akan menghasilakan buah. dalam cerita purana yang membahas tentang siwaratri tercantum bahwa orang yang hanya begadang saja walau tidak tahu tujuan begadang itu juga diampuni dosa - dosanya tapi terbatas pada dosa-dosa ringan saja. kata -kata kitab suci menurut saya lebih baik diterima apa adanya tanpa banyak interpretasi yang berlebihan karena tidak ada otoritas yang bisa membenarkan interpretasi tersebut dan tentu saja interpretasi itu dibuat oleh manusia yang tidak sempurna, Sesuatu yang tidak sempurna tidak dapat menghasilkan suatu hal yang sempurana. Pengetahuan tentang Agama yang terbaik adalah yang langsung dari Tuhan yang diturunkan dalam garis perguruan yang jelas sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, kalau tidak terdapat interpretasinya, just leave it as it is. </p>
<p>Saat Tuhan dalam purana dikatakan memancarkan cahaya lembut bagai sinar seribu bulan maka Ya tentu saja Tuhan memancarkan cahaya lembut bagai sinar seribu bulan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nyoman Sadra</title>
		<link>http://blog.baliwww.com/guides/540/#comment-65597</link>
		<dc:creator>Nyoman Sadra</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 07:44:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.baliwww.com/guides/540/#comment-65597</guid>
		<description>Pak Sanat yang baik,

Tiang akan komentari tulisan pak Sanat dalam bahasa Indonesia sehingga tiang lebih bebas berexpresi.
Cerita Lubdaka yang berujung pada Shiva Ratri memang sangat menarik dan bentuk cerita serta alurnya bagi tiyang khas cerita Hindu dimana setiap pembaca ditantang untuk berinterpretasi. Dan bagi tiang semuanya sah-sah saja walaupun mungkin banyak perbedaannya. Justru perbedaan interpretasi itulah yang menjadikan cerita  tersebut menjadi semakin menarik karena keindahan terbentuk karena adanya perbedaan. Semakin berbeda, semakin indah.Boleh lihat keindahan pemandangan alam yang terdiri dari berbagai macam komponen alam. Interpretasi singkat pak Sanat bagi tiang benar adanya karena Shiva mengajak umat manusia untuk mengendalikan diri dan melebur sifat-sifat buruknya sehingga ketika nafsu, amarah, ego, kesombongan dan semua sifat manusia yang dapat mencelakakan dirinya dapat dikendalikan atau bahkan dilebur maka sudah pasti bahwa dirinya akan melihat Shiva dan bahkan menyatu denganNya. Tiang hanya kurang sependapat jika Malam Shiva Ratri diartikan sebagai malam peleburan dosa dalam artian bahwa dengan melek semalam dan berpuasa sehari semua dosa kita akan terhapus. Apalagi kalau mengacu pada pendapatnya Swami Vivekananda yang mengatakan: "Sin is sheer ignorance". Disamping itu, sebagai umat Hindu kita percaya dengan Hukum Karma yang artinya bahwa setiap tindakan manusia akan mendatangkan akibat yang sepadan. Jadi tidak mungkinlah kebodohan kita itu dapat dihapus dengan puasa dan bergadang hanya dalam sehari ( dalam artian harpiah ). Kalaupun Shiva Ratri diartikan dapat menghapus dosa maka menurut pendapat tiyang: "puasa artinya mampu mengendalikan diri dan bergadang atau melek artinya kesadaran/pemahaman". Dengan demikian, "Kebodohan kita akan terhapus". Singkatnya adalah bahwa semuanya itu bermuara pada diri sendiri sehingga saya setuju dengan kata pak Gede Prama yang mengatakan: "Lama aku mengetuk, dan ketika pintu itu terbuka ternyata aku mengetuknya dari dalam".

Selamat Hari Raya Shiva Ratri semoga umat manusia semakin mampu mengendalikan diri sehingga kedamaian akan turun kedalam kehidupan kita.

Shantih,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Sanat yang baik,</p>
<p>Tiang akan komentari tulisan pak Sanat dalam bahasa Indonesia sehingga tiang lebih bebas berexpresi.<br />
Cerita Lubdaka yang berujung pada Shiva Ratri memang sangat menarik dan bentuk cerita serta alurnya bagi tiyang khas cerita Hindu dimana setiap pembaca ditantang untuk berinterpretasi. Dan bagi tiang semuanya sah-sah saja walaupun mungkin banyak perbedaannya. Justru perbedaan interpretasi itulah yang menjadikan cerita  tersebut menjadi semakin menarik karena keindahan terbentuk karena adanya perbedaan. Semakin berbeda, semakin indah.Boleh lihat keindahan pemandangan alam yang terdiri dari berbagai macam komponen alam. Interpretasi singkat pak Sanat bagi tiang benar adanya karena Shiva mengajak umat manusia untuk mengendalikan diri dan melebur sifat-sifat buruknya sehingga ketika nafsu, amarah, ego, kesombongan dan semua sifat manusia yang dapat mencelakakan dirinya dapat dikendalikan atau bahkan dilebur maka sudah pasti bahwa dirinya akan melihat Shiva dan bahkan menyatu denganNya. Tiang hanya kurang sependapat jika Malam Shiva Ratri diartikan sebagai malam peleburan dosa dalam artian bahwa dengan melek semalam dan berpuasa sehari semua dosa kita akan terhapus. Apalagi kalau mengacu pada pendapatnya Swami Vivekananda yang mengatakan: &#8220;Sin is sheer ignorance&#8221;. Disamping itu, sebagai umat Hindu kita percaya dengan Hukum Karma yang artinya bahwa setiap tindakan manusia akan mendatangkan akibat yang sepadan. Jadi tidak mungkinlah kebodohan kita itu dapat dihapus dengan puasa dan bergadang hanya dalam sehari ( dalam artian harpiah ). Kalaupun Shiva Ratri diartikan dapat menghapus dosa maka menurut pendapat tiyang: &#8220;puasa artinya mampu mengendalikan diri dan bergadang atau melek artinya kesadaran/pemahaman&#8221;. Dengan demikian, &#8220;Kebodohan kita akan terhapus&#8221;. Singkatnya adalah bahwa semuanya itu bermuara pada diri sendiri sehingga saya setuju dengan kata pak Gede Prama yang mengatakan: &#8220;Lama aku mengetuk, dan ketika pintu itu terbuka ternyata aku mengetuknya dari dalam&#8221;.</p>
<p>Selamat Hari Raya Shiva Ratri semoga umat manusia semakin mampu mengendalikan diri sehingga kedamaian akan turun kedalam kehidupan kita.</p>
<p>Shantih,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nyoman Winardi</title>
		<link>http://blog.baliwww.com/guides/540/#comment-65581</link>
		<dc:creator>Nyoman Winardi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2008 06:22:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.baliwww.com/guides/540/#comment-65581</guid>
		<description>Yang saya lihat, beberapa tahun terakhir ini, Siwaratri dijadikan ajang untuk pacaran. Dijadikan kesempatan untuk menikmati malam berdua bersama pacar tercinta :)

Mungkin ini salah satu cara yang ditempuh untuk melakukan jagra itu sendiri kayaknya ya bli?

Menurut bli bagaimana?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yang saya lihat, beberapa tahun terakhir ini, Siwaratri dijadikan ajang untuk pacaran. Dijadikan kesempatan untuk menikmati malam berdua bersama pacar tercinta <img src='http://blog.baliwww.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mungkin ini salah satu cara yang ditempuh untuk melakukan jagra itu sendiri kayaknya ya bli?</p>
<p>Menurut bli bagaimana?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
