Siwaratri (Purgatory a la Balinese)
Today, Redite Pon Julungwangi, Balinese celebrates Siwaratri, here is the interesting article on last year edition:
Tomorrow, on the dark moon of the seventh month based on the Balinese lunar calendar system, Balinese will celebrate the Siwaratri or the Night of Siwa. This holy day is devoted to God Siwa, the destroyer. Balinese believes that on this day, God Siwa, the destroyer meditate for the welfare of the world, and the God Siwa will bestow a pardon for all sin to someone if he accompany the God Siwa in his meditation by observing some self restriction and meditate on the night of Siwaratri.
The Brata (self-restriction) of Siwaratri includes Jagra (staying awake all night long), Upawasa (fasting), and Monabrata (silence). There are three major level of self- restriction, Balinese can choose a level of self-restriction according to his capability. The Kakawin (old poetry prayer) of Siwaratrikalpa explains the three major level of self- restriction that should take place on the Siwaratri night as follow Utama (top self-restriction) includes Brata (self-restriction) like Monabrata (silence), Upawasa (fasting) and Jagra (staying awake all night long). Madya (middle self-restriction) includes Upawasa (fasting) and Jagra (staying awake all night long). Nista (lowest self-restriction) includes only Jagra (staying awake all night long). The Brata (self-restriction) is held over a period of 36 hours, starting with the sunrise on January 17 until the sunset of ‘Tilem Kepitu’ on January 18, 2007.
The celebration of Siwaratri, night of Siwa will light up the night all over Bali. On this night, temples will be full of the congregations. They stay awake all night long, recite prayer or old religious story, chat with friend (for those who takes a lesser self- restriction) and fight the sleepy eyes as hard as possible. The students will celebrate the Siwaratri, night of Siwa in their respective school, they gather in the school temple under the supervision of their teacher, recites prayer, read the holy book, or simply chat with other student.
After succeeding in fighting the sleepy eyes all night long, Balinese will flock to the beach to take a purification ceremony simply by praying on the beach and taking a quick bath in the chill seawater. After completing the ceremony Balinese must not sleep, he has to go to work as usual. Taking a sleep in the morning or a nap will destroy all the Brata (self-restriction) that have been observe on the day before.



















January 7th, 2008 14:22
Yang saya lihat, beberapa tahun terakhir ini, Siwaratri dijadikan ajang untuk pacaran. Dijadikan kesempatan untuk menikmati malam berdua bersama pacar tercinta
Mungkin ini salah satu cara yang ditempuh untuk melakukan jagra itu sendiri kayaknya ya bli?
Menurut bli bagaimana?
January 8th, 2008 15:44
Pak Sanat yang baik,
Tiang akan komentari tulisan pak Sanat dalam bahasa Indonesia sehingga tiang lebih bebas berexpresi.
Cerita Lubdaka yang berujung pada Shiva Ratri memang sangat menarik dan bentuk cerita serta alurnya bagi tiyang khas cerita Hindu dimana setiap pembaca ditantang untuk berinterpretasi. Dan bagi tiang semuanya sah-sah saja walaupun mungkin banyak perbedaannya. Justru perbedaan interpretasi itulah yang menjadikan cerita tersebut menjadi semakin menarik karena keindahan terbentuk karena adanya perbedaan. Semakin berbeda, semakin indah.Boleh lihat keindahan pemandangan alam yang terdiri dari berbagai macam komponen alam. Interpretasi singkat pak Sanat bagi tiang benar adanya karena Shiva mengajak umat manusia untuk mengendalikan diri dan melebur sifat-sifat buruknya sehingga ketika nafsu, amarah, ego, kesombongan dan semua sifat manusia yang dapat mencelakakan dirinya dapat dikendalikan atau bahkan dilebur maka sudah pasti bahwa dirinya akan melihat Shiva dan bahkan menyatu denganNya. Tiang hanya kurang sependapat jika Malam Shiva Ratri diartikan sebagai malam peleburan dosa dalam artian bahwa dengan melek semalam dan berpuasa sehari semua dosa kita akan terhapus. Apalagi kalau mengacu pada pendapatnya Swami Vivekananda yang mengatakan: “Sin is sheer ignorance”. Disamping itu, sebagai umat Hindu kita percaya dengan Hukum Karma yang artinya bahwa setiap tindakan manusia akan mendatangkan akibat yang sepadan. Jadi tidak mungkinlah kebodohan kita itu dapat dihapus dengan puasa dan bergadang hanya dalam sehari ( dalam artian harpiah ). Kalaupun Shiva Ratri diartikan dapat menghapus dosa maka menurut pendapat tiyang: “puasa artinya mampu mengendalikan diri dan bergadang atau melek artinya kesadaran/pemahaman”. Dengan demikian, “Kebodohan kita akan terhapus”. Singkatnya adalah bahwa semuanya itu bermuara pada diri sendiri sehingga saya setuju dengan kata pak Gede Prama yang mengatakan: “Lama aku mengetuk, dan ketika pintu itu terbuka ternyata aku mengetuknya dari dalam”.
Selamat Hari Raya Shiva Ratri semoga umat manusia semakin mampu mengendalikan diri sehingga kedamaian akan turun kedalam kehidupan kita.
Shantih,
January 8th, 2008 18:05
Pak Nyoman Sadra
saya ingin menanggapi comment dari pak Nyoman terhadap tulisan saya. Terus terang saya tidak sependapat dengan Vivekananda (bukan berarti saya mensejajarkan diri dengan Vivekananda hanya ingin menyatakan perbedaan pendapat walaupun saya sadar saya tidak mempunyai otoritas dan qualifikasi seperti beliau), menurut saya dosa (sin) bukanlah sheer ignorance, tapi efek dari perbuatan yang dilakukan atas dasar ignorance. kalau seorang yang ignorant tidak melakukan perbuatan atau kegiatan berkarma yang buruk maka ia tidak bisa dikatakan melakukan dosa. orang yang ignorant juga mempunyai kesempatan dan saya yakin dapat berkarma baik walaupun kecil, sekali dalam sudut pandang saya dosa bukanlah kebodohan tapi hasil dari kegiatan yang didasarkan atas ketidaktahuan atau kebodohan. saya juga ingin mengutip pepatah cina yang mengatakan bahwa orang bodoh tidak akan membuat masalah masalah hanya timbul dari orang bodoh yang merasa dirinya pintar, hanya bodoh saja tidak akan menghasilkan dosa namun juga diperlukan keberanian untuk melakukan perbuatan satu lagi dan kesalahan besar dihasilkan oleh orang besar.
masalah kegiatan Siwaratri tidak bisa menebus dosa dan karma. saya sangat yakin pada karma dan saya bahwa orang yang bergadang pada malam siwaratri mendapatkan penebusan dosa, bercermin dari cerita Lubdaka, dia sendiri tidak tahu kalau malam saat dia bergadang itu adalah malam Siwaratri, dia hanya bergadang untuk menyelamatkan diri namun dia toh pada akhirnya mendapatkan surga. tidak perduli apa motif dibalik begadang itu sepanjang itu positif saya yakin akan ada balasanya, karena setiap kegiatan pasti akan menghasilakan buah. dalam cerita purana yang membahas tentang siwaratri tercantum bahwa orang yang hanya begadang saja walau tidak tahu tujuan begadang itu juga diampuni dosa - dosanya tapi terbatas pada dosa-dosa ringan saja. kata -kata kitab suci menurut saya lebih baik diterima apa adanya tanpa banyak interpretasi yang berlebihan karena tidak ada otoritas yang bisa membenarkan interpretasi tersebut dan tentu saja interpretasi itu dibuat oleh manusia yang tidak sempurna, Sesuatu yang tidak sempurna tidak dapat menghasilkan suatu hal yang sempurana. Pengetahuan tentang Agama yang terbaik adalah yang langsung dari Tuhan yang diturunkan dalam garis perguruan yang jelas sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, kalau tidak terdapat interpretasinya, just leave it as it is.
Saat Tuhan dalam purana dikatakan memancarkan cahaya lembut bagai sinar seribu bulan maka Ya tentu saja Tuhan memancarkan cahaya lembut bagai sinar seribu bulan.