<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.1" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Dr. A.A. Made Djelantik</title>
	<link>http://blog.baliwww.com/people-community/953/</link>
	<description>Share Bali Indonesia experience with the rest of readers and exchange information, write to our blog instantly NOW!!!</description>
	<pubDate>Fri, 16 May 2008 04:13:51 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.1</generator>

	<item>
		<title>By: P B</title>
		<link>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64874</link>
		<author>P B</author>
		<pubDate>Sun, 14 Oct 2007 05:58:00 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64874</guid>
					<description>Hormat saya kepada Dr Djelantik sane sampun mur ring acintya (telah menyatu dgn yang maha kuasa). Semoga beliau merestui komentar2x ini untuk pelurusan sejarah. 

“Yesterday, the present director of the hospital, Prof. Dr. dr. A.A. Gede Sudewa Djelantik, informed me that very soon, ‘Rumah Sakit Sanglah’ in Denpasar will be renamed in his honor.”

Comment: If this is true, it’s so sad that someone holding a professorship made this statement without careful analysis. Does he understand the meaning of nepotism?

“And indeed there was still a relation between Dr. Djelantik and his former school mate Ngurah Rai. In 1947, short after the Balinese wedding of Astri Henriete Swart and Dr. Djelantik in the palace ‘Puri Agung Karangasem’, he received a letter written by Ngurah Rai: “My dear friend, I fully approve of what you are doing. Please carry on with your mission. I will not follow your steps, because I have vowed that I will continue our armed struggle until my last drop of blood! Let us fight together, each in his own way. We remain brothers. Destroy this piece of paper. Ng.Rai” “

Comment: It’s so funny. National hero I Gusti Ngurah Rai fought until his dead in Puputan Margarana 20/11/1946. How could dr Djelantik receive his letter in 1947? Who held this letter before being received by Dr Djelantik? Perhaps that piece of paper was already destroyed that we cannot reveal the truth.
Any survivors or historians, please tell us the truth. 
The following was partly taken from comments on http://dendemang.wordpress.com/2007/09/11/mengenang-dr-aam-djelantik-sebagai-pejuang/#comments 
Page 187
“We considered it not safe for you to be placed in Bali,” Gde Agung said
“Why?” I was astonished
“Please, don’t ask too many questions. The political situation in Bali is very tense. The Pemudas are very active supporting the Republic, they are planning something”
Kalau dibaca secara kritis, ini karena dr. Djelantik sudah menjadi incaran para pemuda. 
“Perihal malariologist apakah dunia kedokteran mengenal istilah tersebut? Apakah ada dokter ahli demam berdarah?”
Ada kejadian yg menarik juga saat di Bali Hotel, Denpasar.
Page 176
The first public meeting, held in Denpasar, was for me quite embarrassing. Not having spoken the official Indonesian language for a long time, I was unable to make speech in public in my own language. I spoke in Dutch, translated, phase by phase, by the Assistant-Resident, Mr Major Polak.
Make your own judgement on his remark in his autobiography.


“When President Sukarno whose mother was Balinese came to stay in his residence in Tampaksiring, Dr. Djelantik served as his private doctor.”

Comment: This is also debatable. Dr Djelantik was not President Soekarno’s private doctor. 

PB</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hormat saya kepada Dr Djelantik sane sampun mur ring acintya (telah menyatu dgn yang maha kuasa). Semoga beliau merestui komentar2x ini untuk pelurusan sejarah. </p>
<p>“Yesterday, the present director of the hospital, Prof. Dr. dr. A.A. Gede Sudewa Djelantik, informed me that very soon, ‘Rumah Sakit Sanglah’ in Denpasar will be renamed in his honor.”</p>
<p>Comment: If this is true, it’s so sad that someone holding a professorship made this statement without careful analysis. Does he understand the meaning of nepotism?</p>
<p>“And indeed there was still a relation between Dr. Djelantik and his former school mate Ngurah Rai. In 1947, short after the Balinese wedding of Astri Henriete Swart and Dr. Djelantik in the palace ‘Puri Agung Karangasem’, he received a letter written by Ngurah Rai: “My dear friend, I fully approve of what you are doing. Please carry on with your mission. I will not follow your steps, because I have vowed that I will continue our armed struggle until my last drop of blood! Let us fight together, each in his own way. We remain brothers. Destroy this piece of paper. Ng.Rai” “</p>
<p>Comment: It’s so funny. National hero I Gusti Ngurah Rai fought until his dead in Puputan Margarana 20/11/1946. How could dr Djelantik receive his letter in 1947? Who held this letter before being received by Dr Djelantik? Perhaps that piece of paper was already destroyed that we cannot reveal the truth.<br />
Any survivors or historians, please tell us the truth.<br />
The following was partly taken from comments on <a href="http://dendemang.wordpress.com/2007/09/11/mengenang-dr-aam-djelantik-sebagai-pejuang/#comments" rel="nofollow">http://dendemang.wordpress.com/2007/09/11/mengenang-dr-aam-djelantik-sebagai-pejuang/#comments</a><br />
Page 187<br />
“We considered it not safe for you to be placed in Bali,” Gde Agung said<br />
“Why?” I was astonished<br />
“Please, don’t ask too many questions. The political situation in Bali is very tense. The Pemudas are very active supporting the Republic, they are planning something”<br />
Kalau dibaca secara kritis, ini karena dr. Djelantik sudah menjadi incaran para pemuda.<br />
“Perihal malariologist apakah dunia kedokteran mengenal istilah tersebut? Apakah ada dokter ahli demam berdarah?”<br />
Ada kejadian yg menarik juga saat di Bali Hotel, Denpasar.<br />
Page 176<br />
The first public meeting, held in Denpasar, was for me quite embarrassing. Not having spoken the official Indonesian language for a long time, I was unable to make speech in public in my own language. I spoke in Dutch, translated, phase by phase, by the Assistant-Resident, Mr Major Polak.<br />
Make your own judgement on his remark in his autobiography.</p>
<p>“When President Sukarno whose mother was Balinese came to stay in his residence in Tampaksiring, Dr. Djelantik served as his private doctor.”</p>
<p>Comment: This is also debatable. Dr Djelantik was not President Soekarno’s private doctor. </p>
<p>PB</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>By: Bulantrisna</title>
		<link>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64890</link>
		<author>Bulantrisna</author>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2007 02:21:11 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64890</guid>
					<description>Pertama-tama terimakasih kepada sdr Sanat yang meneruskan blog kepada saya dan terimakasih kepada Bapak PB yang telah menuliskan uneg-unegnya yang sangat berharga bagi kami sekeluarga.  Bersama ini saya sebagai anak sulung Dr Djelantik menyampaikan  sebagai berikut:
1.Pernyataan Prof Sudewa hanyalah “luapan kegembiraan”, mendengar berita dari sesepuh dan pejabat RS Sanglah dan FK Unud.  Beliau samasekali tak ikut dalam proses pengusulan dan pengambilan keputusan nantinya, jadi tidak ada unsur nepotisme untuk  menggunakan nama ayah, putra daerah yang pertama memimpin dan membangun RS Sanglah selama 8 tahun mulai tahun 1960 sampai 1968.
2. Mengenai surat Ngurah Rai memang ada kesalahan quote tahun: alm ayah datang ke Bali selama tiga minggu pada tahun 1946 ( sebelum saya lahir), dan sekalian upacara pernikahan.  Alm ibu Astri menyetujui datang, dengan syarat bahwa mereka boleh menyuarakan pendapat dengan bebas.  Bisa baca dalam buku The Birthmark  halaman   177: “Later  I found out that he died with ninety-five of his guerrillas in an ambush in November, one month after we left Bali.
3. Mengenai istilah “malarialogist”, kebetulan saya menemukan surat dari Dr G Kovchasov, WHO Senior Malaria Advisor tertanggal 1 Desember 1979 yang menyebutkan: “Now, I am glad to inform you, that the Ministry of Public Health (Afghanistan) has agreed to make necessary arrangements to EMRO, asking you as STC-Administrative Officer (Malariologist) for a period of ….dst.  Jadi istilah ini dari WHO.  Juga tak ada hubungan antara istilah Malaria dan Demam Berdarah (dengue hemorrhagic fever) lho, vektornya lain, gejala dan terapinya pun lain!!
4. Memang alm ayah mungkin bukan Dokter Istana secara resmi.. namun hanya dokter keluarga Bung Karno, karena saya ingat sendiri ketika kecil keluarga Bung Karno termasuk anak-anak beliau datang ke rumah untuk berobat..sehingga saya dapat bertemu mbak Megawati dan adik-adik di halaman rumah.. dan bagaimana ayah sering dipanggil ke Istana Tampaksiring membawa tas dokternya
5. Mengenai sikap Pemuda, tentu dapat dimengerti keadaan politik saat itu, dan bagaimana dalam politik selalu ada dinamika kawan-lawan sampai sekarang.  Alm Ibu telah memilih menjadi warga negara Indonesia dan dapat disimak dalam buku The Birthmark betapa dia membela bangsa dan negara Indonesia.

Semoga ini dapat meluruskan cerita masa lalu ayah dan semoga sekali waktu dapat bertemu muka langsung untuk diskusi lebih lanjut, salam suksema, Dr dr Bulantrisna Djelantik, SpTHT.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama-tama terimakasih kepada sdr Sanat yang meneruskan blog kepada saya dan terimakasih kepada Bapak PB yang telah menuliskan uneg-unegnya yang sangat berharga bagi kami sekeluarga.  Bersama ini saya sebagai anak sulung Dr Djelantik menyampaikan  sebagai berikut:<br />
1.Pernyataan Prof Sudewa hanyalah “luapan kegembiraan”, mendengar berita dari sesepuh dan pejabat RS Sanglah dan FK Unud.  Beliau samasekali tak ikut dalam proses pengusulan dan pengambilan keputusan nantinya, jadi tidak ada unsur nepotisme untuk  menggunakan nama ayah, putra daerah yang pertama memimpin dan membangun RS Sanglah selama 8 tahun mulai tahun 1960 sampai 1968.<br />
2. Mengenai surat Ngurah Rai memang ada kesalahan quote tahun: alm ayah datang ke Bali selama tiga minggu pada tahun 1946 ( sebelum saya lahir), dan sekalian upacara pernikahan.  Alm ibu Astri menyetujui datang, dengan syarat bahwa mereka boleh menyuarakan pendapat dengan bebas.  Bisa baca dalam buku The Birthmark  halaman   177: “Later  I found out that he died with ninety-five of his guerrillas in an ambush in November, one month after we left Bali.<br />
3. Mengenai istilah “malarialogist”, kebetulan saya menemukan surat dari Dr G Kovchasov, WHO Senior Malaria Advisor tertanggal 1 Desember 1979 yang menyebutkan: “Now, I am glad to inform you, that the Ministry of Public Health (Afghanistan) has agreed to make necessary arrangements to EMRO, asking you as STC-Administrative Officer (Malariologist) for a period of ….dst.  Jadi istilah ini dari WHO.  Juga tak ada hubungan antara istilah Malaria dan Demam Berdarah (dengue hemorrhagic fever) lho, vektornya lain, gejala dan terapinya pun lain!!<br />
4. Memang alm ayah mungkin bukan Dokter Istana secara resmi.. namun hanya dokter keluarga Bung Karno, karena saya ingat sendiri ketika kecil keluarga Bung Karno termasuk anak-anak beliau datang ke rumah untuk berobat..sehingga saya dapat bertemu mbak Megawati dan adik-adik di halaman rumah.. dan bagaimana ayah sering dipanggil ke Istana Tampaksiring membawa tas dokternya<br />
5. Mengenai sikap Pemuda, tentu dapat dimengerti keadaan politik saat itu, dan bagaimana dalam politik selalu ada dinamika kawan-lawan sampai sekarang.  Alm Ibu telah memilih menjadi warga negara Indonesia dan dapat disimak dalam buku The Birthmark betapa dia membela bangsa dan negara Indonesia.</p>
<p>Semoga ini dapat meluruskan cerita masa lalu ayah dan semoga sekali waktu dapat bertemu muka langsung untuk diskusi lebih lanjut, salam suksema, Dr dr Bulantrisna Djelantik, SpTHT.</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>By: putra perantau</title>
		<link>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64896</link>
		<author>putra perantau</author>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2007 22:25:40 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64896</guid>
					<description>mbak Dr dr Bulantrisna yth.
hormat saya kepada ayah anda atas jasa2nya semasa hidupnya.
saya tidak habis pikir, bagaimana seorang guru basar dan sebagai salah satu pejabat RS Sanglah tidak bisa mengendalikan kegembiraannya mengatakan sesuatu yg belum pasti. Sebaiknya yg mengklarifikasi statemen tsb adalah Prof Sudewa sendiri dan bukan mbak.  
Sedangkan hal-hal yg berhubungan dengan masalalu ayah mbak diperlukan suatu pengkajian lebih dalam lagi dan diperlukan saksi2 yg bisa menceritakan masa hidup ayah mbak. Bukan berdasarkan buku yg ditulis oleh ayah mbak sendiri.
Saya bukan pejuang, tetapi pejuang sejati akan mengorbankan jiwanya untuk mengusir penjajah dari bumi indonesia, Bukannya menghindar untuk cari selamat. Itu namanya kalah ataupun menang tetap menang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mbak Dr dr Bulantrisna yth.<br />
hormat saya kepada ayah anda atas jasa2nya semasa hidupnya.<br />
saya tidak habis pikir, bagaimana seorang guru basar dan sebagai salah satu pejabat RS Sanglah tidak bisa mengendalikan kegembiraannya mengatakan sesuatu yg belum pasti. Sebaiknya yg mengklarifikasi statemen tsb adalah Prof Sudewa sendiri dan bukan mbak.<br />
Sedangkan hal-hal yg berhubungan dengan masalalu ayah mbak diperlukan suatu pengkajian lebih dalam lagi dan diperlukan saksi2 yg bisa menceritakan masa hidup ayah mbak. Bukan berdasarkan buku yg ditulis oleh ayah mbak sendiri.<br />
Saya bukan pejuang, tetapi pejuang sejati akan mengorbankan jiwanya untuk mengusir penjajah dari bumi indonesia, Bukannya menghindar untuk cari selamat. Itu namanya kalah ataupun menang tetap menang.</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>By: Wibisono Sastrodiwiryo</title>
		<link>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64900</link>
		<author>Wibisono Sastrodiwiryo</author>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2007 08:17:21 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64900</guid>
					<description>@putra perantau,

Anda menyatakan rasa hormat dan sekaligus sinis kepada Dr Djelantik. Sikap yang ambivalent.

&lt;blockquote&gt;Saya bukan pejuang, tetapi pejuang sejati akan mengorbankan jiwanya untuk mengusir penjajah dari bumi indonesia, Bukannya menghindar untuk cari selamat. Itu namanya kalah ataupun menang tetap menang&lt;/blockquote&gt;

FYI: Dr Djelantik tidak pernah mengklaim dirinya sebagai seorang pejuang. Saya sendiripun &lt;a href="http://dendemang.wordpress.com/2007/09/11/mengenang-dr-aam-djelantik-sebagai-pejuang/#comment-155" rel="nofollow"&gt;telah meralat tulisan di Blog saya tentang hal ini&lt;/a&gt;.

Di Blog sayapun anda &lt;a href="http://dendemang.wordpress.com/2007/09/11/mengenang-dr-aam-djelantik-sebagai-pejuang/#comment-164" rel="nofollow"&gt;berkomentar kritis dan berani&lt;/a&gt; dengan menggunakan nama Putra Pejuang. Disini anda menggunakan nama Putra Perantau.

Selamat anda juga orang yang cuma mau cari selamat, tidak berani mempertanggung-jawabkan komentar.

FYI: tampil anonymous dan sering gonta ganti nama itu tidak etis didunia Blog. Sebaik apapun sebuah komentar kalau datang dari orang yang tidak jelas identitasnya maka komentar itu bisa dianggap sampah. 

Kalau isu yang ditanggapi hanya isu ringan masih bisa diterima tapi kalau isu serius dimana orang orang yang berkomentar menggunakan nama aslinya seperti Ibu Bulantrisna maka hormatilah mereka dengan menggunakan identitas valid.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@putra perantau,</p>
<p>Anda menyatakan rasa hormat dan sekaligus sinis kepada Dr Djelantik. Sikap yang ambivalent.</p>
<blockquote><p>Saya bukan pejuang, tetapi pejuang sejati akan mengorbankan jiwanya untuk mengusir penjajah dari bumi indonesia, Bukannya menghindar untuk cari selamat. Itu namanya kalah ataupun menang tetap menang</p></blockquote>
<p>FYI: Dr Djelantik tidak pernah mengklaim dirinya sebagai seorang pejuang. Saya sendiripun <a href="http://dendemang.wordpress.com/2007/09/11/mengenang-dr-aam-djelantik-sebagai-pejuang/#comment-155" rel="nofollow">telah meralat tulisan di Blog saya tentang hal ini</a>.</p>
<p>Di Blog sayapun anda <a href="http://dendemang.wordpress.com/2007/09/11/mengenang-dr-aam-djelantik-sebagai-pejuang/#comment-164" rel="nofollow">berkomentar kritis dan berani</a> dengan menggunakan nama Putra Pejuang. Disini anda menggunakan nama Putra Perantau.</p>
<p>Selamat anda juga orang yang cuma mau cari selamat, tidak berani mempertanggung-jawabkan komentar.</p>
<p>FYI: tampil anonymous dan sering gonta ganti nama itu tidak etis didunia Blog. Sebaik apapun sebuah komentar kalau datang dari orang yang tidak jelas identitasnya maka komentar itu bisa dianggap sampah. </p>
<p>Kalau isu yang ditanggapi hanya isu ringan masih bisa diterima tapi kalau isu serius dimana orang orang yang berkomentar menggunakan nama aslinya seperti Ibu Bulantrisna maka hormatilah mereka dengan menggunakan identitas valid.</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>By: Budayawan Muda</title>
		<link>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64907</link>
		<author>Budayawan Muda</author>
		<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 00:25:12 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64907</guid>
					<description>&lt;strong&gt;Fakta Kepulangan Dr AAM&#160;Djelantik&lt;/strong&gt;

Sebelumnya saya ingin menjelaskan bagaimana politik Belanda dalam mencengkeram Indonesia selama lebih dari 350 tahun. Secara singkat bisa saya katakan bahwa Belanda tidak tertarik dengan kebudayaan Indonesia.
Best interest Belanda adalah ekonomi dan pe...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Fakta Kepulangan Dr AAM&nbsp;Djelantik</strong></p>
<p>Sebelumnya saya ingin menjelaskan bagaimana politik Belanda dalam mencengkeram Indonesia selama lebih dari 350 tahun. Secara singkat bisa saya katakan bahwa Belanda tidak tertarik dengan kebudayaan Indonesia.<br />
Best interest Belanda adalah ekonomi dan pe&#8230;</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>By: Autinus Perkasa</title>
		<link>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64926</link>
		<author>Autinus Perkasa</author>
		<pubDate>Fri, 19 Oct 2007 12:42:22 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64926</guid>
					<description>Sebagai seorang academica sebaiknya anda menanggapi setiap kritikan maupun pertanyaan secara dingin dan tidak perlu emosional</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai seorang academica sebaiknya anda menanggapi setiap kritikan maupun pertanyaan secara dingin dan tidak perlu emosional</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>By: Budayawan Muda</title>
		<link>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64947</link>
		<author>Budayawan Muda</author>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2007 14:17:21 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-64947</guid>
					<description>&lt;strong&gt;Visi Kebangsaan Dr AAM&#160;Djelantik&lt;/strong&gt;

Dr Djelantik yang lebih dikenal sebagai budayawan dan dokter tidak menyurutkan minat dan perhatian masyarakat tentang visi kebangsaannya. Peran apa yang beliau mainkan dimasa perjuangan? Apa pandangan politiknya? Benarkah beliau pernah menerima surat d...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Visi Kebangsaan Dr AAM&nbsp;Djelantik</strong></p>
<p>Dr Djelantik yang lebih dikenal sebagai budayawan dan dokter tidak menyurutkan minat dan perhatian masyarakat tentang visi kebangsaannya. Peran apa yang beliau mainkan dimasa perjuangan? Apa pandangan politiknya? Benarkah beliau pernah menerima surat d&#8230;</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>By: Professor Adrian Vickers</title>
		<link>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-65150</link>
		<author>Professor Adrian Vickers</author>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2007 03:02:19 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-65150</guid>
					<description>Sayang sekali dalam komentar beberapa blog ada orang memfitnah almarhum Dr Djelantik yang kami sangat hormati. Sebagai sejarahwan saya salalu curiga kalau orang mau pakai sejarah tanpa pengertian kepada konteks, apalagi tidak pakai argumentasi yang sesuai dengan penggunaan fakta dalam pendekatan historiografis. 

Benar bahwa Dr Djelantik tidak pernah menamakan diri sebagai 'pejuang', apalagi sebagai orang pasifis dan humanitarian, tidak mungkin Beliau ikut berperang, seperti pejuang yang saya kenal, misalnya Pak Wijakusuma. Sebelum zaman Jepang, boleh dikatakan ada golongan yang kecil tetapi berpengaruh, yaitu kaum Nasionalis, dan ada juga diantara raja-raja yang pro-Belanda. Akan tetapi kebanyakan orang belum mengerti politik, atau neteral, sesuai dengan kebijakan Belanda yang menghalangi atau memadamkan gerakan dan expresi nasionalism. Jadi tidak luar biasa bahwa Dr Djelantik sendiri tidak ikuti politik, apalagi waktu Beliau belajar di Belanda. 

Mengenai hal kawin dengan orang Belanda, itu tidak berarti pro-pemerintah Belanda, sebenarnya merupakan pemberontakan pribadi kepada peraturan Belanda, yang melawan perkawinan antara perempuan Belanda dan laki-laki Indonesia. Sutan Syahrir juga kawin dengan orang Belanda. Apakah dia pro-Belanda? 

Kritik-kritik yang lain yang disampaikan hanya berdasarkan salah ketik dan pencarian arti kata yang terlalu sempit (misalnya, menurut ahli medis di Australia, dari dulu Dr Djelantik diakui secara internasional oleh karena pekerjaan Beliau dalam bidang malaria). Yang perlu ditanyakan, mengapa orang yang memberi kritik menyembunyikan nama dengan samaran? Apa yang mau dirahasiakan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sayang sekali dalam komentar beberapa blog ada orang memfitnah almarhum Dr Djelantik yang kami sangat hormati. Sebagai sejarahwan saya salalu curiga kalau orang mau pakai sejarah tanpa pengertian kepada konteks, apalagi tidak pakai argumentasi yang sesuai dengan penggunaan fakta dalam pendekatan historiografis. </p>
<p>Benar bahwa Dr Djelantik tidak pernah menamakan diri sebagai &#8216;pejuang&#8217;, apalagi sebagai orang pasifis dan humanitarian, tidak mungkin Beliau ikut berperang, seperti pejuang yang saya kenal, misalnya Pak Wijakusuma. Sebelum zaman Jepang, boleh dikatakan ada golongan yang kecil tetapi berpengaruh, yaitu kaum Nasionalis, dan ada juga diantara raja-raja yang pro-Belanda. Akan tetapi kebanyakan orang belum mengerti politik, atau neteral, sesuai dengan kebijakan Belanda yang menghalangi atau memadamkan gerakan dan expresi nasionalism. Jadi tidak luar biasa bahwa Dr Djelantik sendiri tidak ikuti politik, apalagi waktu Beliau belajar di Belanda. </p>
<p>Mengenai hal kawin dengan orang Belanda, itu tidak berarti pro-pemerintah Belanda, sebenarnya merupakan pemberontakan pribadi kepada peraturan Belanda, yang melawan perkawinan antara perempuan Belanda dan laki-laki Indonesia. Sutan Syahrir juga kawin dengan orang Belanda. Apakah dia pro-Belanda? </p>
<p>Kritik-kritik yang lain yang disampaikan hanya berdasarkan salah ketik dan pencarian arti kata yang terlalu sempit (misalnya, menurut ahli medis di Australia, dari dulu Dr Djelantik diakui secara internasional oleh karena pekerjaan Beliau dalam bidang malaria). Yang perlu ditanyakan, mengapa orang yang memberi kritik menyembunyikan nama dengan samaran? Apa yang mau dirahasiakan?</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>By: Wibisono Sastrodiwiryo</title>
		<link>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-65161</link>
		<author>Wibisono Sastrodiwiryo</author>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2007 17:03:15 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-65161</guid>
					<description>Dear Prof Adrian,

Salam kenal Pak, saya tahu Pak Adrian dari beberapa buku karya bapak yang dimiliki ayah saya. Baru kali ini dapat bersua di Blog ini. thx to Bli Sanat.

Mengenai para komentator memang sungguh disayangkan, mereka lebih mementingkan makna leksikal ketimbang makna kontekstual dalam sebuah tulisan.

Saya coba mengerti ini mungkin karena adanya sebuah kepentingan politis penamaan RS Sanglah tapi saya tetap tidak habis pikir upaya yang mereka lakukan sedemikian militannya hingga &lt;a href="http://dendemang.wordpress.com/2007/10/23/fakultas-kedokteran-udayana/" rel="nofollow"&gt;sangat merepotkan saya di Blog saya&lt;/a&gt;. Padahal saya tidak pernah mendiskreditkan siapapun.

Mereka seperti tidak perduli dari mana referensi tulisan, &lt;a href="http://dendemang.wordpress.com/2007/10/25/sekilas-universitas-udayana-bali/#comment-587" rel="nofollow"&gt;asal sudah menyangkut Dr Djelantik maka serta merta disanggah&lt;/a&gt;. 

Sudah begitupun menyanggah dengan menggunakan nama samaran. Sebenarnya saya tahu siapa mereka tapi saya tidak mau ungkap, lebih baik mereka sendiri yang ngaku.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Prof Adrian,</p>
<p>Salam kenal Pak, saya tahu Pak Adrian dari beberapa buku karya bapak yang dimiliki ayah saya. Baru kali ini dapat bersua di Blog ini. thx to Bli Sanat.</p>
<p>Mengenai para komentator memang sungguh disayangkan, mereka lebih mementingkan makna leksikal ketimbang makna kontekstual dalam sebuah tulisan.</p>
<p>Saya coba mengerti ini mungkin karena adanya sebuah kepentingan politis penamaan RS Sanglah tapi saya tetap tidak habis pikir upaya yang mereka lakukan sedemikian militannya hingga <a href="http://dendemang.wordpress.com/2007/10/23/fakultas-kedokteran-udayana/" rel="nofollow">sangat merepotkan saya di Blog saya</a>. Padahal saya tidak pernah mendiskreditkan siapapun.</p>
<p>Mereka seperti tidak perduli dari mana referensi tulisan, <a href="http://dendemang.wordpress.com/2007/10/25/sekilas-universitas-udayana-bali/#comment-587" rel="nofollow">asal sudah menyangkut Dr Djelantik maka serta merta disanggah</a>. </p>
<p>Sudah begitupun menyanggah dengan menggunakan nama samaran. Sebenarnya saya tahu siapa mereka tapi saya tidak mau ungkap, lebih baik mereka sendiri yang ngaku.</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>By: Bali Hotel Villa Blog Culture Travel Guide Indonesia - BALIwww.COM &#187; Blog Archive &#187; &#8220;A. A. Made Djelantik Room&#8221; at ARMA MUSEUM Ubud/Bali</title>
		<link>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-65566</link>
		<author>Bali Hotel Villa Blog Culture Travel Guide Indonesia - BALIwww.COM &#187; Blog Archive &#187; &#8220;A. A. Made Djelantik Room&#8221; at ARMA MUSEUM Ubud/Bali</author>
		<pubDate>Sat, 05 Jan 2008 01:17:49 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.baliwww.com/people-community/953/#comment-65566</guid>
					<description>[...] the cremation of Dr. A. A. Made Djelantik there was a spontaneous solution between A. A. Gede Rai (&#8217;Yayasan Walter Spies Bali&#8217; [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[&#8230;] the cremation of Dr. A. A. Made Djelantik there was a spontaneous solution between A. A. Gede Rai (&#8217;Yayasan Walter Spies Bali&#8217; [&#8230;]</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
